Kamis, 20 Oktober 2011

Candi Prambanan, peninggalan budaya bangsa

Candi Prambanan, peninggalan budaya bangsa


Candi Prambanan
Pada artikel ini saya akan mencoba menulis tentang peninggalan kebudayaan atau warisan bangsa yakni Candi Prambanan yang sampai sekarang masih berdiri kokoh, meski Candi Prambanan ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Sebenarnya perjalanan ke Candi Prambanan ini telah saya lakukan kira-kira sekitar 3 tahun yang lalu, karena sampai sekarang belum ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke sana kembali. Tulisan ini sendiri sesungguhnya untuk memenuhi tugas softskill yang diberikan dari pihak kampus pada semester yang sedang saya jalani sekarang saat ini dan saya memilih judul “Candi, peninggalan budaya bangsa” karena yang terlintas saat ini dan menuju deadline untuk membuat tulisan adalah mengenai kebudayaan candi.
Candi Prambanan terletak di antara 2 kabupaten dan 2 provinsi di Pulau Jawa, lebih tepatnya berada di tengah-tengah Kabupaten Sleman (Provinsi Yogyakarta) dan Kabupaten Klaten (Provinsi Jawa Tengah), letak Candi Prambanan ini tidak jauh dari desa tempat saya tinggal, yaitu Klaten. Kira-kira hanya 30 menit perjalanan dari tempat saya menuju lokasi Candi Prambanan menggunakan kendaraan bermotor. Dan setelah memasuki gerbang atau pintu utama, anda akan disuguhi berbagai kerajinan tangan dan cinderamata khas kota Yogyakarta, hal semacam ini juga terdapat ketika anda ingin keluar dari Candi Prambanan.
Terakhir kali ketika saya mengunjungi Candi Prambanan saat itu sudah jauh berbeda, candi ini telah mengalami pemugaran untuk kesekian kalinya dan harus dipagari setelah terjadi peristiwa gempa bumi yang telah melanda kota Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006, akibatnya beberapa batu-batu candi harus diperbaiki dan diperkokoh kembali serta masih terdapatnya tiang-tiang penyangga pada sekeliling candi. Saat itu saya hanya bisa melihat dari luar pagar saja dan memutari kompleks candi serta tidak dapat masuk ke tengah-tengah wilayah candi, apalagi untuk masuk ke dalam candi untuk melihat bentuk candi dari sisi dalam.
Candi Prambanan
Karena sebelum adanya kejadian gempa bumi yang melanda kota D.I Yogyakarta dan berdampak buruk bagi bangunan Candi Prambanan itu sendiri, orang-orang yang berkunjung masih dapat melihat bagian dalam dan diperbolehkan untuk menaiki tangga candi, bahkan dapat mengabadikan gambar tepat di perundak-undakan candi. Kini beberapa meter dari batas pagar yang membatasi Candi Prambanan dibangun panggung untuk tempat mengambil objek foto, jadi setiap orang dapat bergantian naik ke atas panggung (dengan jumlah batas maksimal sekitar 25 orang) yang ingin mengabadikan gambar keseluruhan candi. Contoh panggung tersebut dapat dilihat pada foto di atas, meski hanya kelihatan kecil, maklum saat itu saya mengambil gambar dari jarak yang lumayan jauh, maksud hati ingin mendapatkan objek secara keseluruhan.
Candi Prambanan dikenal juga oleh masyarakat setempat dengan nama Candi Roro Jonggrang, nama tersebut diambil dari cerita rakyat mengenai Bandung Bondowoso yang ingin mempersunting sang dewi, dengan syarat untuk membangun seribu candi dalam waktu hanya satu malam. Bandung Bondowoso sendiri hampir saja menyanggupi permintaan sang putri tersebut, karena Bandung Bondowoso mengerjakannya dengan bantuan para makhluk halus. Namun ketika tinggal satu candi yang belum jadi, Roro Jonggrang dengan kecerdikannya dan bantuan dari perempuan-perempuan desa untuk bekerja menumbuk padi, sehingga para makhluk halus bantuan dari Bandung Bondowoso pun pergi karena mengira hari sudah pagi.
Karena kesal dengan perbuatan sang putri, Bandung Bondowoso pun mengutuk Roro Jonggrang menjadi pelengkap candi yang keseribu atau kadang dikenal dengan istilah Candi Sewu. Maaf, jika ada kesalahan bercerita, karena kisah yang saya ceriterakan dari sudut pandang saya dan dari informasi dari orang-orang terdekat. Dan pada komplek Candi Prambanan ini terdapat tiga candi besar, yaitu Candi Siwa (yang paling besar), Candi Brahma, dan Candi Wisnu serta menjadi lambang tempat upacara agama Hindu.
Candi Prambanan sudah menjadi situs warisan dunia yang diakui oleh UNESCO pada tahun 1991. Kini kita sebagai masyarakat biasa hanya bisa menjaga kelestarian Candi Prambanan ini serta candi-candi yang lainnya agar tetap awet dan terjaga, dengan cara tidak merusak bangunan-bangunan atau arca dan tidak mencurinya serta dengan cara mengingat sejarah yang terjadi di dalamnya. Karena kini banyak pemuda-pemudi yang lupa akan sejarah dan peninggalan-peninggalan budaya bangsa, mengingat kutipan dari presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, “Jas merah : jangan lupakan sejarah”

0 komentar:

Poskan Komentar